Lagi...MUSE
MUSE didaulat untuk mengusung lagu mereka menjadi salah satu theme song Olimpiade London 2012
Teater IB Padang tampil memukau
Geliat Teater di zaman digital ditunjukkan oleh pemuda - pemuda dari Teater Imam Bonjol Padang
Elton John 2012
Setelah sempat diundur, Elton John dipastikan menyapa penggemarnya di Indonesia pada bulan November 2012
Pertunjukan Topeng Nusantara di Singapura
Pameran dan pertunjukkan topeng dari berbagai daerah di Indonesia
digelar di Singapura pada 18-21 Oktober 2012. Kegiatan ini akan
menggunakan Art Science Museum, Marina Bay Sands, Singapura, sebagai
arena pertunjukkan.
Pertunjukkan ini dilaksanakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi
Kreatif yang bekerja sama dengan Yayasan Prima Ardian Tana, serta Rumah
Topeng dan Wayang. Melibatkan berbagai maestro seni tari Indonesia, The
Majestic Mask bertujuan untuk mengenalkan kekayaan dan keragaman topeng
nusantara.
Sendratari kontemporer membalut pertunjukkan ini agar dapat dikenal
secara internasional. Selain itu, pengenalan legenda dari Indramayu,
Solo, dan Bali juga menjadi tujuan dari pengadaan pertunjukkan ini.
"Acara ini digelar agar masyarakat tahu bahwa topeng itu tidak murah,"
jelas salah satu maestro seni tari yang berpartisipasi dalam The
Majestic Mask, Wangi Indriya.
Pameran ini merupakan pameran seni internasional pertama yang
menceritakan tentang kisah asmara Kerajaan Jawa Kuno. Rahayu Supanggah
sebagai music director bekerja sama dengan berbagai maestro Indonesia
lainnya, seperti I Made Sidia, Sutarno Haryono, Wangi Indriya, dan Wasi
Bantolo.
Seni Unik : Melukis dengan bubuk kopi
Satu lagi sebuah tradisi khas yang dimiliki Indonesia dan sepertinya
hanya negeri kita yang mempunyai kebiasaan unik ini. Sebuah tradisi yang
kerap mudah dijumpai di Jawa Timur, terutama Kabupaten Tulungagung.
Tradisi itu bernama seni Cethe, yakni sebuah kebiasaan unik masyarakat
yang memiliki ciri khas tersendiri dengan melukis menggunakan media
bubuk kopi serta media penuangannya dilakukan diatas kertas rokok.
Tidak semua orang memiliki keahlian dalam bermain Cethe, apalagi
mengingat media yang digunakan sangat sulit. Kertas pada batangan rokok
yang tergolong tipis dan halus menjadi tantangan tersendiri bagi para
pecinta Cethe. Begitupula bubuk kopi yang digunakan tidak sembarangan,
pengolahannya perlu tangan-tangan khusus untuk menghasilkan bubuk yang
sangat super halus dan kental.
Kabupaten Tulungagung sebagai sentral kopi khas, memberikan banyak
sajian bubuk kopi yang bisa dijadikan untuk bahan bermain Cethe.
Masyarakat Tulungagung menyebut bubuk kopi ini dengan sebutan “wedang
kopi cethe”, sebuah ekspresi nama yang memang ditujukan untuk bermain
Cethe. Biasanya para pengolah kopi ini mencapurkan banyak bahan-bahan
tertentu yang tentunya menjadi rahasia para pemilik kedai kopi. Sebagian
masyarakat menyebutnya dengan kopi ijo atau kopi hijau, bubuk kopi ini
memang sangat halus dan sedikit berwarna hijau.
Kegiatan Nyethe (sebutan untuk melukis bubukk kopi diatas kertas
rokok) bervariasi caranya, salah satunya yakni dengan mengendapkan
dahulu kopi yang sudah dibuat didalam gelas atau cangkir kecil sampai
benar-benar mengendap ampasnya. Air kopi yang ada pada gelas tersebut
sedikit demi sedikit dituang ke tempat lainnya dengan tujuan untuk
mendapatkan endapan ampas kopi yang sempurna (halus dan banyak). Bahkan
ada yang sampai melakukan dengan cara mengendapkan air kopi menggunakan
kertas atau tisu, sehingga hasil endapan bisa didapatkan dengan baik.
Setelah endapan terkumpul, para pecinta Cethe melukiskan endapan
tersebut dengan bantuan batang korek api kayu, atau dengan tusuk gigi.
Bahan yang runcing dan halus memang dibutuhkan untuk mendapatkan goresan
yang bagus. Endapan yang sudah diambil dengan batang tusuk gigi
tersebut dioleskan atau dilukis diatas media kertas pada batang rokok,
disinilah seni lukis Cethe mulai dilakukan. Lukisan yang dibuat kerap
berbentuk semacam motig batik, tulisan, bahkan sampai bentuk realis
wajah. Sungguh tradisi yang benar-benar unik dan butuh keahlian. Karena
media yang digunakan kecil dan halus, bertindak kasar sedikit akan
merobek kertas media Cethe.
Jika pelukis Cethe sudah membuat gambar yang dihasilkan, kemudian
lukisan itu dikeringkan dahulu sampai benar-benar kering dalam artian
tidak ada sisa air pada endapan bubuk kopi tersebut. Wah,sungguh rumit
dan butuh ketelatenan yang tinggi demi mendapat hasil maksimal. Tradisi
ini sangat mudah dijumpai di Tulungagung, bahkan beberapa waktu sempat
diadakan pulan festival Nyethe, atau perlombaan untuk mencari hasil
Cethe terbagus. Bagaimana, Anda tertarik untuk melakukan kegiatan
Nyethe? Tradisi negeri Kita memang terkenal unik dan beragam,
kelestarian adat budaya masyarakat yang khas menjadikan Indonesia
sebagai Negara beribu-ribu budaya. Kekayaan ini bernilai mahal, dan
masyarakat Indonesia sendiri yang perlu menjaga dan melestarikannya.
Semoga jaya selalu Indonesiaku.
Lukisan Jerami Karya Anak Negeri
Seperti yang dilansir id.berita.yahoo.com, jerami bisa
digunakan sebagai seni kolase jerami (Straw Collation Art). Seni lukisan
jerami ini memang merupakan seni yang unik dan jarang ditemui.
Salah
satu seniman yang menggeluti bidang ini adalah Febrantonius Sinaga.
Pria berdarah Batak ini adalah salah satu seniman Indonesia yang
mengangkat dan memperkenalkan seni jerami. Melalui karyanya,
Febrantonius Sinaga memperkenalkan budaya batak melalui sumber daya alam
berupa jerami dari kampungnya sendiri, Tarutung.
Definisi kolase
sendiri adalah campuran bahan-bahan yang sedemikian rupa sehingga
menjadi bentuk karya seni artistik. Biasanya bahan-bahan yang digunakan
berasal dari kertas, kain, kayu, dan lain-lain. Bahan-bahan tersebut
kemudian ditempel di permukaan gambar atau kanvas.
Nah, uniknya
lagi sang maestro kita, Febrantonius Sinaga menggunakan kain ulos batak
sebagai kanvas. Sedangkan jerami yang dipakainya adalah jerami yang
khusus didatangkan dari Tapanuli, lebih tepatnya lagi dari Desa Lumban
Rihit.
Lantas
mengapa harus jerami dari Tapanuli? Febriantonius sendiri menjawab
bahwa ia tidak mau menggunakan jerami padi dari Jawa karena jerami
Tapanuli memiliki kualitas yang jauh lebih baik dibandingkan jerami
Jawa. Selain itu, ukuran diameter jerami jawa yang relatif kecil
membuatnya sulit untuk dipakai sebagai kolase. Faktor lainnya adalah
warna jerami Jawa yang warnanya keputih-putihan.
Berbeda dengan
jerami Tapanuli yang berwarna kuning emas bercampur coklat muda. Perlu
JBers ketahui bahwa semua lukisan Febrantonius tidak memakai bahan
pewarna sehingga warna lukisan tampak lebih alami. Inilah alasan mengapa
Febrantonius Sinaga sengaja memakai jerami Tapanuli yang kualitasnya
lebih bagus. Jerami Tapanuli ini berasal dari padi jenis Ramos.
Febrantonius
Sinaga pun menjelaskan teknik pembuatannya. Pertama-tama , jerami
dibelah dan dibersihkan. Kemudian disetrika dengan tingkat panas
tertentu sehingga merata, tidak gosong dan tidak mudah patah. Setelah
itu, jerami di lem dan ditempelkan diatas gambar yang telah dibuat
sketsanya terlebih dahulu. Barulah dibentuk pakai gunting atau cutter.
Setelah itu kolase jerami tersebut ditempelkan di atas kain ulos. Agar
lebih awet dan mengilap, karyanya pun dipernis.
Febrantonius
Sinaga mengatakan bahwa ia membutuhkan waktu antara 10 hari sampai
sebulan untuk membuat lukisan, tergantung tingkat kesulitan dalam
membentuk huruf dan gambar.
JBers sebagai bangsa Indonesia boleh
berbangga karena lukisan Febrantonius ini sudah populer hingga ke
Singapura, Cina dan Jerman. Lukisannya pun sering terpampang di
pameran-pameran seni baik lokal maupun nasional. Contohnya adalah Sumut
Expo, Pekan Raya Sumatera Utara, Indonesia Christian Retail Expo dan
lain-lain.















