Guns "N" Roses Jakarta 15 Dec 2012

Konser Perdana Guns N Roses di Indonesia

Soundrenaline

Festival Musik Rock yang tak pernah mati

Rockotor Fest 2013

Pesta akbar kaum Grunge Indonesia...Grunge Strikes Back!!!

One Direction

One Direction akan konser di Indonesia 2013?

West End Teater London

Teater legendaris dari London ini merilis top 10 jadwal pertunjukan mereka.

Pablo Picasso

Lukisan terbesar karya Pablo Picasso akan dipamerankan di Perancis

Adam Lambert

Bagaimana kontroversi kehidupan pribadi pemenang kedua American Idol Season 2009 ini?

NOAH

Kontroversi nama baru grup band Ariel, Uki, Lukman, Reza, dan David

Lagi...MUSE

MUSE didaulat untuk mengusung lagu mereka menjadi salah satu theme song Olimpiade London 2012

Teater IB Padang tampil memukau

Geliat Teater di zaman digital ditunjukkan oleh pemuda - pemuda dari Teater Imam Bonjol Padang

Elton John 2012

Setelah sempat diundur, Elton John dipastikan menyapa penggemarnya di Indonesia pada bulan November 2012

Aelita Andre

Bagaimana bisa lukisan abstrak bocah cilik ini bisa diterima di dunia?

Grunge

Bagaimana pandangan global terhadap suara GRUNGE, suara santun kaum urakan?

Guns 'N' Roses konser perdana di Indonesia

Setelah mendapat kabar mengejutkan kedatangan Guns N'Roses (GN'R) di Jakarta, bagi Anda pencinta GN'R, sudah bisa memeroleh tiket konsernya mulai hari ini. Axl dkk dijadwalkan menggelar konser perdananya di Indonesia, pada 15 Desember mendatang. 

Dengan venue Lapangan D, Senayan, Jakarta, Anda dapat melihat aksi Axl dkk. Indonesia juga wajib berbangga hati, sebab Jakarta menjadi satu-satunya kota di Asia Tenggara yang dilewati tur dunia mereka. "Tiket untuk Guns N' Roses live in Jakarta mulai dijual hari ini, 17 Oktober, dan kalian bisa mendapatkannya di Rajakarcis. Tiket akan berkisar antara USD73 sampai USD115, dan untuk kelas VIP USD208. Untuk informasi lebih lanjut bisa mencarinya di www.gunsnroses.com," tulis situs resmi Gn'R, seperti dikutip dari Okezone, Rabu (17/10/2012). 

Sekadar informasi, pihak Indika Production selaku promotor konser telah membaginya menjadi tiga kelas, yaitu VIP Rp2 juta, Festival A Rp1,1 juta, dan Festival B Rp700 ribu.

Anugrah Bintang Luminar 2012


 

10 nama tokoh berbakat di berbagai bidang memenangi ajang "Anugerah Bintang Luminar 2012" yang dihelat bulan lalu. 

10 nama tokoh-tokoh terbaik di bidangnya itu adalah
1. Aktris Film/Televisi: Christine Hakim
2. Aktor Film/Televisi: Deddy Mizwar
3. Penyanyi Solo - Wanita: Vina Panduwinata
4. Penyanyi Solo - Pria: Iwan Fals
5. Penyanyi Duo/Band: Slank
6. Pembawa Acara Televisi - Wanita: Becky Tumewu
7. Pembawa Acara Televisi - Pria: Andy F Noya
8. Perancang Mode: Edward Hutabarat
9. Pengabdian Seumur Hidup: Waljinah
10. Pilihan Masyarakat (People's Choice Award): Agnes Monica

Penghargaan yang akan diberikan secara berkala setiap satu tahun tersebut, merupakan ajang penghargaan independen dan memiliki kredibilitas yang diberikan kepada individu-individu unggulan Indonesia yang dikenal luas atas karya dan kontribusi mereka di bidang hiburan dan mode.
Para jawara penerima penghargaan Bintang Luminar akan diabadikan di Avenue of The Stars di Lippo Mall kawasan Kemang Village, Jakarta Selatan.

Anugerah Bintang Luminar (ABL 2012) adalah penghargaan bagi tokoh yang menginspirasi publik Indonesia karena prestasi, komitmen, dan kontribusi di bidang seni, hiburan dan mode Indonesia.
Bertempat di Balai Kartini, Jakarta, Yayasan Bintang Karya Cipta menggelar acara Malam Anugerah Bintang Luminar 2012 yang dipersembahkan bagi para tokoh yang terpilih dari 10 nominasi dalam penghargaan ini.

Anugerah Bintang Luminar 2012 sendiri merupakan sebuah penghargaan yang digagas oleh Yayasan Bintang Karya Cipta, sebuah lembaga non profit yang memiliki kepeduliaan mengangkat cipta, karya seni, dan budaya Indonesia.

Pentalogi Metateater Aryo 5 Unsur Alam 4 Penjuru Angin



Pentas Pentalogi Metateater Aryo 5 Unsur Alam 4 Penjuru Angin mencapai puncaknya pada Jumat (5/10) yang lalu. Pertunjukan unsur ether dengan judul "I'm not the body" ini dihelat di Kantor Tribun Pekanbaru, Jalan Haji Imam Munandar.

Selain pentas metateater, dalam pertunjukan Jumat malam itu, juga ditampilkan berbagai macam acara kesenian. Misalnya jaranan, pembacaan puisi, dan gabano.

Pertunjukan gabano, kata Aryo, merupakan hal yang cukup unik. Menurutnya, gabano merupakan sebuah seni tradisi dari Kabupaten Kampar.

Pada pementasan itu, Aryo menggandeng grup Dzikiu Gabano dari Desa Batu Belah Kampar. Grup gabano ini, sudah cukup lama sesekali berkolaborasi dengannya dalam pementasan metateater.

"Sejak tahun 1996 lalu," kata dia.

Yang menarik, ucapnya, pemain gabano yang akan pentas nantinya seluruh personelnya sudah berusia lanjut. Rata-rata, sembilan personel gabano yang akan beraksi di Tribun, sudah berusia 70-an tahun.

Namun faktor usia tidak menghalangi mereka berkreatifitas. Personel yang sebagian besar merupakan penyadap karet tersebut, masih cukup eksis dalam dunia pertunjukan gabano.

Sebelumnya, jelas Aryo, grup ini pernah tampil bersama untuk merayakan ulang tahun sebuah statiun televesi swasta. Selain itu, grup yang sama ini pernah juga melakukan pementasan dalam peluncuran buku karya seorang tokoh Riau.

Seni gabano jelas Aryo, adalah sebuah kesenian yang berunsur musik rebana untuk mengiringi alunan dzikir yang dikumandangkan pemain-pemainnya. "Ritme dari gabano tidaklah monoton," ucapnya.

Diceritakan Aryo, pemain gabano yang akan pentas bersamanya merupakan seniman-seniman sejati. Orientasi mereka adalah mempertahankan kesenian ini agar tetap lestari. Tidak tergerus oleh arus budaya luar yang mengalir deras.

Dalam melestarikan seni tradisi ini, bahkan seorang yang disebut Aryo sebagai Datuk Gabano, rela bersepeda untuk datang ke tempat pementasan. Dia pun rela dibayar dengan upah yang relatif kecil.

Dikisahkan Aryo, gabano memberikan semangat hidup kepada personel-personel Dzikiu Gabano. Pernah suatu kali, Datuk Gabano sakit ketika hendak melakukan pementasan.

Semula, personel lainnya tidak mengijinkan Ocu Bano, sebutan lain Datuk Gabano, mengikuti pentas. Tentu hal itu dilatar belakangi pertimbangan kesehatannya.

Namun, dia bersikeras agar dirinya bisa mengikuti pementasan gabano. Akhirnya, rekan-rekannya pun menyerah dan kemudian mengijinkannya ikut latihan.

"Pada hari H pementasan, dia sudah sembuh total. Gabano adalah hidupnya," kata Aryo.

Sementara, antara gabano yang soft dan metateater yang absurd, tidaklah menjadi penghalang kekompakan kolaborasi antara keduanya. "Kami sudah sering pentas bersama. Silahkan saja datang ke Tribun Jumat malam besok untuk menyaksikan kekompakan kami," tutur Aryo.

Misteri Seni atau Sejarah Seni? oleh Helena Spanjaard



SEJAK pembukaan Museum OHD di Magelang (5 April 2012) muncul beberapa reaksi yang beredar di dunia seni rupa Indonesia. Reaksi-reaksi ini kemudian menggiring pada diselenggarakannya Fine Art Round Table Discussion di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta (24 Mei 2012). Sebagai seorang sejarawan seni yang telah lama meneliti seni rupa modern dan kontemporer Indonesia, saya ingin berkontribusi ke dalam diskusi ini dengan berbagi pendapat saya kepada kalian.

Sebuah kesenangan luar biasa bagi saya karena dapat menghadiri pembukaan Museum OHD ke-3 di Magelang. Karena saya menginap selama beberapa hari di sana, saya mendapatkan kesempatan baik untuk mengunjungi museum dan mempelajari lukisan kelima maestro ini: Affandi, Sudjojono, Hendra, Widayat dan Soedibio.

Pertama kalinya saya melihat karya yang secara tak terduga berkualitas begitu tinggi dengan konten yang begitu unik betul-betul membuat saya tercengang. Sungguh sebuah perjamuan untuk mata dan jiwa. Karya-karya ini memperkaya pengetahuan saya dengan informasi baru yang dibawanya. Pameran ini memberikan arti baru pada pentingnya peranan para pelukis tersebut dalam sejarah seni rupa Indonesia.

Sehari sebelum pembukaan, dr. Oei memandu satu grup jurnalis mengelilingi koleksinya. Dengan ke-khas-an antuasiasmenya yang menginspirasi, ia menjelaskan latar belakang tiap pelukis dan karya-karya mereka. Hari pembukaan keesokan harinya sangat ramai dan menggembirakan. Akhirnya kita dapat melihat hasil dari persiapan bertahun-tahun. Di samping kekayaan isi dari pameran dalam museum, perhatian besar juga telah ditujukan untuk bagian eksterior gedung. Beberapa seniman telah diminta membuat karya seni untuk memperkuat citra yang ingin ditampilkan bangunan ini: sebuah museum yang mendukung seni rupa modern dan kontemporer Indonesia. Relief patung besar di bagian depan dan beberapa karya seni di pintu masuk berfungsi sebagai pengantar bagi para pengunjung. Lantai halaman di pintu masuk museum dibagi menjadi kotak-kotak kecil, tiap kotak digarap oleh seniman yang berbeda. Karya seni ini menunjukkan kerjasama baik yang telah dibangun antara para seniman dan dr. Oei.

Sehari setelah pembukaan, acara diskusi berlangsung di Magelang. Topiknya dibagi dalam dua sesi. Sesi 1: Mengusung seni rupa Indonesia sebagai koleksi museum internasional: isu, tantangan, strategi. (Panelis: Kwok Kian Chow, Pearl Lam, Oei Hong Djien dan Helena Spanjaard, moderator Patricia Chen). Sesi 2: Memetakan seni rupa Indonesia untuk perkembangannya di pasar internasional: isu, tantangan, dan strategi. (Panelis: Pearl Lam, Magnus Renfrew dan Lorenzo Rudolf, moderator Patricia Chen).

Selama sesi pertama, disebutkan oleh para panelis bahwa beberapa topik berikut telah menghambat pemasaran seni rupa Indonesia di luar negeri: kurangnya museum publik representatif di Indonesia, kurangnya pameran regular di luar negeri, kurangnya publikasi dan pelatihan tentang sejarah seni rupa, dan kurangnya seniman yang tinggal di luar negeri.

Pada sesi kedua, infrastuktur galeri/ balai lelang/ pedagang seni dibahas. Panelis menekankan fakta bahwa harga suatu karya harus “nyata”, yang artinya seorang seniman harus mendapatkan tempatnya di pasar seni rupa dengan proses yang bertahap, dilindungi oleh pemasaran yang dilakukan oleh galeri yang sudah mapan. Untuk saya, diskusi ini sangatlah spesial, karena jarang terjadi di Indonesia bahwa ahli-ahli seni rupa asing dapat menyuarakan pendapat mereka. Kritik mereka sesungguhnya hanya dimaksudkan untuk membantu memasarkan seni rupa modern Indonesia ke luar negeri, seperti yang telah disampaikan oleh moderator acara ini pada kata pengantar yang disampaikannya.

Gambaran singkat mengenai acara pembukaan Museum OHD di Magelang menjadi pengantar saya untuk menuju pada pembahasan surat ini (Misteri Seni atau Sejarah Seni?), dan saya akan kembali pada kesimpulan diskusi panel di Magelang pada akhir surat saya.

Isu Otentisitas dan Peran Sejarah Seni Rupa

Segera setelah pembukaan Museum OHD, berbagai pertanyaan muncul sehubungan dengan autentisitas beberapa karya seni dalam pameran. Awalnya pertanyaan-pertanyaan ini anonim, tapi kemudian si pemrakarsa menunjukkan identitasnya. Karena saya masih berada di Indonesia saat itu, saya berkesempatan mengikuti kejadian ini, yang menggiring pada diselenggarakannya acara “Fine Art Round Table Discussion: Indonesian Modern Paintings” oleh Sarasvati Art Management pada 24 Mei 2012.

Pada tanggal tersebut, saya sudah kembali ke Belanda, tetapi resume diskusinya telah turut dikirimkan ke saya sehingga saya dapat membaca kesimpulannya sejauh ini.

Satu hal yang mengesankan untuk saya adalah kenyataan bahwa pada seluruh diskusi ini (sebuah inisiatif berarti dari dr. Oei dan peserta panel), beberapa orang tampaknya sadar akan pentingnya sebuah mata rantai yang terputus di Indonesia: tidak adanya fakultas sejarah seni rupa di tingkat universitas. Sebagai seorang sejarawan professional, saya ingin berkomentar tentang keganjilan situasi ini. Pertama, saya hendak mengutip beberapa kalimat dari Goenawan Mohamad yang dapat dibaca di resume yang dikirim oleh Sarasvati:

“Terlepas dari keributan soal isu lukisan palsu, dalam forum diskusi muncul sejumlah gagasan penting untuk membangun seni rupa Indonesia ke depan. Budayawan Goenawan Mohamad menyatakan, kisruh isu lukisan palsu ini muncul karena dunia seni rupa Indonesia tidak memiliki lembaga kritik yang sehat. “Juga tidak banyak jurnal yang menampung kritik,” ujarnya. “Kalau kedua hal ini ada, tentu kritik yang ada tidak akan menjadi liar, tapi lebih sistematis.”

Sekarang izinkan saya untuk memberikan analisa singkat mengenai dunia seni rupa Indonesia dibandingkan dengan dunia seni rupa internasional (terutama Belanda). Siapapun (di Indonesia maupun negara luar) yang hendak membuktikan bahwa sebuah lukisan itu palsu memerlukan kriteria standar tertentu yang berdasar pada penelitian. Di Eropa, dasar ini pertama-tama disediakan oleh badan substansial berupa museum yang didukung oleh pemerintah. Di museum-museum, karya seni dari berbagai periode berbeda ditampilkan. Mereka ditampilkan sedemikian rupa sehingga membentuk sebuah „kanon‟ (karya seni paling berharga yang terpilih, dibuat oleh para spesialis, paling benilai dalam arti kultural, bukan karena nilai finansialnya!) untuk masyarakat umum. Karya seni di museum mempunyai beberapa fungsi: mereka memberikan pandangan tentang sejarah nasional dan lokal sebuah negara, mereka menjadi latar belakang bersama sebuah masyarakat, dan dalam hal karya seni dari budaya dan periode lain: karya seni ini memperluas cakrawala pengunjung untuk belajar tentang budaya dan periode dari asal yang berbeda. Fungsi terpenting dari museum adalah fungsi edukatif, tetapi karya seni yang ditampilkan juga menyediakan kriteria standar, yang mana dengan demikian sejarawan seni dapat memulai penelitian mereka.

Dunia seni rupa di Eropa dibagi ke dalam beberapa bidang, pemerintah dan swasta. Di samping beberapa museum pemerintah mapan, terdapat juga museum swasta dan galeri seni yang menampilkan seni rupa untuk khalayak umum. Beberapa balai lelang yang dihormati menyediakan tempat di mana karya seni dijual. Kolektor pribadi ada, dan menjadi semakin penting dalam krisis ekonomi ini, tetapi mereka tidak memainkan peran domininan dalam dunia seni rupa.

Dimulai dari abad ke-19, universitas mendirikan departemen sejarah seni rupa. Pada fakultas akademis ini, karya seni dipelajari dan dijelaskan dalam buku dan majalah khusus. Publikasi ini dapat ditemukan di universitas, museum, dan perpustakaan umum. Beberapa sejarawan seni mempersembahkan seluruh hidup mereka untuk penelitian akademis, di samping aktivitas dasar mereka: mengajar. Kurator museum, pameran atau art fair internasional pada umumnya memiliki gelar di bidang sejarah seni, dan ini juga berlaku sama bagi kritikus seni yang menulis di surat kabar dan majalah.

Jika ada pertanyaan muncul mengenai autentisitas sebuah karya seni, sejarawan akan diminta untuk berpendapat, berdasarkan penelitian independen. Independen berarti bahwa keterlibatan sejarawan seni ini tidak berhubungan dengan individu atau institusi tertentu yang bertanya kepada mereka. Sejarawan seni mengimplementasikan metodologi sejarah seni rupa tepat yang telah mereka pelajari, dan jika ini tidak cukup, ahli-ahli lain akan dilibatkan, seperti penelitian laboratorium, atau pendapat kedua dari spesialis lain di bidang ini: misalnya restorator, dll, dll.

Sekarang mari kita kembali pada dunia seni rupa Indonesia. Museum Seni Rupa Modern nasional yang secara permanen mempertunjukkan seleksi karya seni historis oleh seniman-seniman terbaik belumlah ada. Maka karena itu, tidak ada tolak ukur standar untuk memperbandingkan lukisan. Contoh terbaik dari seni rupa Indonesia tersembunyikan dari mata publik karena mereka telah menjadi milik kolektor pribadi. Maka inisitatif pribadi manapun yang bersedia membukakan pintu mereka untuk masyarakat umum sangatlah berharga.

Sama seperti dunia seni rupa Eropa yang dibagi menjadi sektor pemerintah dan swasta, dunia seni rupa Indonesia pun demikian; namun dengan beberapa perbedaan penting. Institusi seni pemerintah masih harus dikembangkan (museum, fakultas sejarah seni, pusat dokumentasi). Dengan demikian, sektor swasta mendominasi sektor pemerintah. Balai lelang dan galeri memenuhi ruang kosong dari sektor pemerintah. Mengenai studi akademis seni rupa modern, situasinya tidak seimbang. Kebanyakan penulis mengenai seni rupa adalah seniman, atau jurnalis. Tidak ada yang salah mengenai seniman atau jurnalis yang menulis tentang seni rupa, asalkan ditampilkan juga sejumlah publikasi yang dilakukan oleh sejarawan seni rupa terlatih. Tetapi tidak demikian kenyataannya. Karena tidak ada fakultas sejarah seni di Indonesia, saya tidak bisa menyalahkan siapapun untuk situasi seperti ini, dan tentunya saya menghormati kritikus seni rupa Indonesia yang telah ke luar negeri untuk belajar di sana.

Apa Akibat dari Situasi Ini?

Di Indonesia ada ratusan seniman yang didukung oleh kolektor pribadi. Pembelian lukisan seringkali berlangsung melalui perantara seperti balai lelang, walaupun saat senimannya masih hidup. Jumlah galeri seni rupa yang dikenal secara internasional sangat terbatas. Kurator pameran (yang biasanya juga adalah penulis dari katalog) pada umumnya terhubung kepada sponsor pribadi, karena tidak adanya dukungan dari pemerintah.

Bagaimana mungkin kita mengharapkan penilaian obyektif dari sebuah karya seni pada situasi yang seperti ini? Untuk mengembangkan pendapat independen, diperlukan adanya pilar ketiga setelah dunia jual-beli. Di Eropa, pilar ini disediakan oleh sejarawan seni rupa yang pada dasarnya berperan untuk melakukan penelitian dan pengajaran. Dokumentasi dari karya seni di insititusi-institusi dibuat berdasarkan pengetahuan mereka (keahlian, bukan kecaman!). Umumnya, pekerjaan penelitian sejarawan seni bukanlah sesuatu yang menyenangkan; ini adalah bagian dari penelitian sejarah yang mana sumber literatur memainkan peranan yang sangat penting. Dibutuhkan waktu dan kesabaran yang luar biasa untuk mengunjungi museum, perpustakaan, pusat arsip, keluarga pelukis, dll. Di Eropa, infrastuktur dunia seni rupa pada hakikatnya didasarkan pada penelitian mereka, sebuah penelitian yang diperuntukkan untuk masyarakat umum, untuk membuka sebuah dunia seni rupa bagi siapapun yang tertarik. Kesenian masih dipercaya memberikan sesuatu yang lebih pada kemanusiaan, sesuatu yang lebih dari sekadar nilai finansial sebuah karya seni.

Kurangnya kriteria standar yang layak di Indonesia, (museum pemerintah di mana kita bisa melihat contoh terbaik dari para pelukis penting, pusat dokumentasi di tingkat akademis) menciptakan ruang hampa berbahaya yang mana produksi lukisan palsu masuk dengan begitu pas-nya. Siapa yang dapat memutuskan mana yang palsu dan mana yang asli ketika tidak ada tolak ukur yang dapat diambil?

Kesimpulan

Selama diskusi di Magelang (6 April 2012), anggota panel menyuarakan hambatan jelas bagi pemasaran seni rupa Indonesia di luar negeri: kurangnya museum, kurangnya pameran di luar negeri, kurangnya publikasi profesional dan pelatihan di bidang sejarah seni. Pendapat mereka mencerminkan pengalaman pribadi saya sendiri sebagai peneliti yang sudah lama meneliti seni rupa modern dan kontemporer Indonesia.

Barangkali ini adalah saat bagi dunia seni rupa Indonesia untuk berefleksi pada kekosongan infrastruktur ini. Dunia seni rupa Indonesia terlalu terobsesi pada transaksi jual-beli. Di mana letaknya aspek edukasi? Mengapa menghabiskan begitu banyak uang untuk membeli sebuah lukisan dan tidak menginvestasikannya ke dalam dokumentasi, preservasi dan penelitian karya seni? Jika Indonesia hendak mempromosikan kekayaan seni rupa modern dan kontemporernya ke luar negeri, tentunya ini harus dilakukan sesuai dengan standar kriteria internasional. Salah satu dari standar ini adalah institusi penelitian dan dokumentasi yang layak, sebuah institusi yang juga dapat berfungsi sebagai jembatan bagi dunia seni internasional.

Maka, marilah kita berlaku positif terhadap inisiatif yang mau memperlihatkan seni rupa Indonesia yang selama ini tak pernah terlihat, kepada khalayak umum (termasuk kepada turis). Dr. Oei telah memberikan teladan luar biasa yang patut dicontoh oleh mereka yang lain. Mengenai isu asli palsu: ini adalah masalah yang telah diciptakan oleh kekurangan dari dunia seni rupa Indonesia itu sendiri, dan perlu diselesaikan dengan cara yang profesional. Ini membutuhkan waktu dan kesediaan untuk mengakui bahwa beberapa unsur terpenting dari iklim seni rupa yang sehat masih belum terwujud.

Tanpa penelitian yang tepat dan pengetahuan, alih-alih menjadi sorotan dari Sejarah Seni Rupa Indonesia, seni rupa modern Indonesia akan tetap menjadi sebuah Misteri bagi kebanyakan orang.

Dr. Helena Spanjaard
Art Historian
University of Amsterdam

Tentang Penulis

Dr. Helena Spanjaard (1951) adalah sejarawan seni rupa asal Belanda yang tinggal di Amsterdam. Sejak 1980, ia telah aktif di bidang lukisan modern dan kontemporer Indonesia sebagai penulis, peneliti, dan kurator dari berbagai pameran (Indonesian Modern Art since 1945, De Oude Kerk, Amsterdam, 1993), (Reformasi Indonesia!, Museum Nusantara, Delft, 2000). Disertasinya, The ideal of modern Indonesian painting: the creation of a national cultural identity, 1900-1995, diterbitkan tahun 1998 oleh Universitas Leiden.

Di samping banyaknya artikel yang ia hasilkan, publikasinya juga termasuk monograf Widayat, the Magical Mysticism of a Modern Indonesian Artist (Museum H. Widayat, 1998), Modern Indonesian Painting (Sotheby‟s, 2003), Exploring Modern Indonesian Art; the Collection of Dr. Oei Hong Djien (Singapura: SNP International, 2004), Pioneers of Balinese Painting: The Rudolf Bonnet Collection (KIT Publishers, Amsterdam, 2007), Indonesian Odyssey (Equinox, 2008) dan The Dono Code (Catalogue Exhibition KIT Publishers, Amsterdam, 2009).

Teguh Karya

Steve Liem Tjoan Hok (lebih dikenal dengan nama Teguh Karya; lahir di Pandeglang, Jawa Barat, 22 September 1937 – meninggal di Jakarta, 11 Desember 2001 pada umur 64 tahun) adalah seorang sutradara film legendaris Indonesia. Teguh Karya adalah pemimpin Teater Populer sejak berdirinya tahun 1968. Ia enam kali menjadi Sutradara Terbaik dalam Festival Film Indonesia . Film-filmnya melahirkan banyak aktor dan aktris terkemuka Indonesia seperti Slamet Rahardjo, Christine Hakim, dan Alex Komang.
Sebelumnya dikenal sebagai pemain sandiwara di akhir 1950-an waktu masih menggunakan nama Steve Lim Tjoan Hok dalam pementasan-pemantasan yang diadakan oleh ATNI. Walaupun juga sudah mendapat pendidikan dan sekaligus praktek pembuatan film pada Perusahaan Film Negara (PFN) namun Teguh masih belum berkecimpung di film. Teguh masih tetap “setia” dengan dunia seni pertunjukan atau teaternya, terlebih setelah pada 1965 membentuk Teater Populer.
Baru pada 1971 dia benar-benar aktif di film dengan membuat Wajah Seorang Laki-laki. Film yang cerita dan skenarionya ditulis Teguh sendiri itu, walaupun kurang mendapat sambutan penonton namun para kritikus dan sejumlah media menilai dan menyambut sebagai sesuatu yang positif. Keberadaan film Teguh ini bahkan dikatakan sebagai film unikum yang patut dipuji.
Selesai itu, Teguh terus membuat film, namun sesekali tetap memproduksi dan menyutradarai pertunjukan teater bersama Teater Populer-nya. Film-film yang lahir dari tangannya senantiasa meraih penghargaan dari berbagai festival baik dalam maupun luar negeri.
Walaupun film telah dikenal Teguh Karya saat masih kuliah di ATNI (Akademi Teater Nasional Indonesia) pada 1950-an akhir, dan bahkan sempat mengikuti program workshop produksi film yang diselenggaraklan oleh PFN (Perusahaan Film Negara) pada awal 1960-an, namun Teguh Karya masih tetap setiap dengan kegiatan teaternya.
Teater dengan nama Teater Populer yang didirikan dan dipimpinnya itu tak terhitung berapa kali sudah tampil mementaskan naskah-naskah dari pengarang besar seperti Alice Gerstenberg, Norman Barash, Nikolai Gogol dan lain-lain. Setiap kali tampil pada masa itu, sambutan penonton luar biasa. Garapan teater Teguh sangat komunikatif. Kekuatan bukan saja ada pada kempuan akting aktor-aktris panggung yang terlibat tetapi juga penyutradaraan, penataan set panggung, manajemen pertunjukan, dan lain-lain. Maka, pada masa itu, setiap kali Teater Populer tampil di berbagai tempat seperti antara lain Taman Ismail Marzuki, Gedung Kesenian Jakarta dan lain-lain, orang-orang sudah siap menanti. Teguh bukan saja sebagai sutradara, tetapi dia memposisikan diri sebagai orang yang paling bertanggungjawab atas semuanya, tentu dengan pendekatan pembinaan sesuai yang dimiliki. Dan pendekatan itu selalu memberikan kekaguman serta kebanggaan bagi murid-muridnya.
Simaklah apa kata Slamet Rahardjo, salah seorang muridnya yang tumbuh dan dibesarkan lewat Teater Populer: “Teguh Karya adalah ‘suhu’. Dia menjadi semacam sentrum magnit yang gelombang getarannya sanggup membuat para anggota kelompok terus-menerus merasa ‘demam berkesenian’. Terus-menerus merasa harus menggali agar kekurangan bisa dilengkapi. Terus menerus ‘hanya’ memikirkan teater dan seni. Dia adalah guru, sahabat, dan sekaligus juga bapak. Pada Teguh, para anak didiknya tidak hanya belajar teater dan kesenian saja, tetapi sekaligus juga belajar tentang kehidupan agar bisa tetap berdiri meski kesulitan datang bertubi-tubi.”
Bahkan Asrul Sani saat melihat kegiatan dan hasil karya teater Teguh Karya, memberikan pendapat: “Semenjak semula bagi Teguh Karya, teater adalah sesuatu yang serius”.
Berteater hingga bertahun-tahun bersama anak didiknya, tak pernah membuat Teguh merasa lelah. Bahkan kerasnya “pertarungan” Teguh ini sempat mendapat sorotan dari media massa.
Media massa mengangap, Teguh Karya terlalu keras pada pendiriannya untuk setia pada teater, sementara itu “bekerja” sebagai orang teater masih belum memungkinkan untuk memberikan penghidupan yang layak. Menanggapi hal ini, saat itu, Teguh Karya menjawab: “Semuanya harus dicari, dibentuk, dan dipelihara. Semuanya membutuhkan kerja keras. Tetapi jangan juga salah, semakin kita dekat dan bisa membuka pintu teater maka sesungguhnya semakin susah. Karena itulah kita terpanggil untuk tetap berada di dalamnya.”
Keakraban Teguh Karya bersama kelompoknya pada teater, menjadikannya begitu kental dengan dunia kesenian. Hingga sampai pada suatu masa, ketika Teguh menganggap bahwa teater memiliki keterbatasan dalam mengekspresikan idenya, maka lalu dipilihlah film sebagai media baru. Tahun 1971 adalah awal persentuhan Teguh Karya dengan dunia film. Pada tahun tersebut, dari tangannya lahir film Wajah Seorang Laki-laki yang pemainnya adalah rata-rata mereka yang biasa bermain pada teaternya sebelum-sebelumnya seperti Slamet Rahardjo, Tuti Indra Malaon, dan lain-lain.
Secara bisnis film pertama Teguh ini gagal. Secara artistik pun kurang mendapat tempat di Festival Film Indonesia (FFI) 1972. Namun, apa yang menjadi kelebihan dalam film ini banyak dibicarakan oleh para kritikus dan media masa. Bahkan juga dianggap memiliki kecenderungan gaya yang berbeda dibandingkan dengan karya-karya sutradara lainnya pada masa itu. Teguh dianggap berpotensi untuk melahirkan film-film berkualitas setelah film pertamanya itu.
Tahun-tahun berikutnya, benar saja, Teguh tampil memberi warna baru dalam sejarah perfilman nasional. Pengaruh latar belakang sebagai orang teater yang sangat dekat dengan kesenian, apalagi sebelumnya sangat dikenal dengan detailnya baik terkait dengan penanganan akting para pemain, setting atau property, komposisi, dramatic, irama dan lain sebagainya, sangat terasa. Hal-hal inilah yang menjadikan karya-karya film Teguh bukan saja sekedar beda dengan kecenderungan karya-karya film sutradara lain tetapi juga memiliki makna dan nilai yang sangat berarti bagi masyarakat penontonnya.
Hampir semua film-film Teguh Karya, akhirnya, setelah Wajah Seorang Laki-laki (1971) sampai dengan karyanya yang terakhir Pacar Ketinggalan Kereta (1989) sukses meraih penghargaan di berbagai festival baik dalam mapun luar negeri.
Sumber : Sinematek Indonesia

Sejarah Singkat Teater Barat


Asal Mula Teater
Waktu dan tempat pertunjukan teater pertama kali dimulai tidak diketahui. Adapun yang dapat diketahui hanyalah teori tentang asal mulanya. Di antaranya teori tentang asal mula teater adalah sebagai berikut:
  • Berasal dari upacara agama primitif. Unsur cerita ditambahkan pada upacara semacam itu yang akhirnya berkembang menjadi pertunjukan teater. Meskipun upacara agama telah lama ditinggalkan, tapi teater ini hidup terus hingga sekarang.
  • Berasal dari nyayian untuk menghormati seorang pahlawan di kuburannya. Dalam acara ini seseorang mengisahkan riwayat hidup sang pahlawan yang lama kelamaan diperagakan dalam bentuk teater.
  • Berasal dari kegemaran manusia mendengarkan cerita. Cerita itu kemudian juga dibuat dalam bentuk teater (kisah perburuan, kepahlawanan, perang, dsb).
Naskah teater tertua di dunia yang pernah ditemukan ditulis seorang  pendeta Mesir,  I Kher-nefert, di jaman peradaban mesir kuno kira-kira 2000 tahun sebelum tarikh Masehi dimana pada jaman itu peradaban Mesir kuno sudah maju. Mereka sudah bisa membuat piramida, sudah mengerti irigasi, sudah bisa membuat kalender, sudah  mengenal ilmu bedah, dan juga sudah mengenal tulis menulis.
I Kher-nefert menulis naskah tersebut untuk sebuah pertunjukan teater ritual di kota Abydos, sehingga  terkenal sebagai “Naskah Abydos” yang menceritakan pertarungan antara dewa buruk dan dewa baik. Jalan cerita naskah Abydos juga diketemukan tergambar dalam  relief kuburan yang lebih tua. Sehingga para ahli bisa mengira bahwa jalan cerita itu sudah ada dan dimainkan orang sejak tahun 5000 SM. Meskipun baru muncul sebagai naskah  tertulis di tahun 2000 SM. Dari hasil penelitian  yang dilakukan  diketahui juga bahwa   pertunjukan teater Abydos terdapat unsur-unsur teater  yang meliputi;  pemain, jalan cerita, naskah dialog, topeng, tata busana, musik, nyanyian, tarian, dan properti pemain seperti tombak, kapak, tameng, dan sejenisnya.
v  Teater Yunani Klasik
Tempat pertunjukan teater Yunani pertama yang permanen dibangun sekitar 2300 Tahun yang lalu. Teater ini dibangun tanpa atap dalam bentuk setengah lingkaran dengan tempat duduk penonton melengkung dan berundak-undak yang disebut Amphiteater. Ribuan orang mengujungi amphiteater untuk menonton teater-teater, dan hadiah diberikan bagi teater terbaik. Naskah lakon teater  Yunani merupakan naskah lakon teater pertama yang menciptakan dialog diantara para karakternya.
Ciri-ciri khusus pertunjukan teater pada masa Yunani Kuno adalah:
  • Pertunjukan dilakukan di Amphiteater
  • Sudah menggunakan naskah lakon
  • seluruh pemainnya pria bahkan peran wanitanya dimainkan pria dan memakai topeng karena
  • setiap pemain memerankan lebih dari satu tokoh.
  • Cerita yang dimainkan adalah tragedi yang membuat penonton tegang, takut,dan kasihan serta cerita komedi yang lucu, kasar dan sering mengeritik tokoh terkenal pada waktu itu
  • Selain pemeran utama juga ada pemain khusus untuk kelompok koor (penyanyi), penari, dan narator (pemain yang menceritakan jalannya pertunjukan).
Pengarang teater Yunani Klasik Yaitu :
  • Aeschylus(525-SM.) Dialah yang pertama kali mengenalkan tokoh prontagonis dan antagonis mampu menghidupkan peran. Karyanya yang terkenal adalah Trilogi Oresteia yang terdiri dari Agamennon , The Libatian Beavers, dan The Furies.
  • Shopocles (496-406 SM.) Karya yang terkenal adalah Oedipus The King, Oedipus at Colonus, Antigone.
  • Euripides (484-406 SM) Karya-karyanya antara lain Medea, Hyppolitus, The Troyan Woman, Cyclops.
  • Aristophanes (448-380 SM)Penulis naskah drama komedi, karyanya yang terkenal adalah Lysistrata, The Wasps, The Clouds, The Frogs, The Birds.
  • Manander (349-291 SM.) Manander menghilangkan Koor dan menggantinya dengan berbagai watak, misalnya watak orang tua yang baik, budak yang licik, anak yang jujur, pelacur yang kurang ajar, tentara yang sombong dan sebagainya. Karya Manander juga berpengaruh kuat pada jaman Romawi Klasik dan drama komedi jaman Renaisans dan Elisabethan.
Kebanyakan drama tragedi Yunani dibuat berdasarkan legenda. Drama-drama ini sering membuat penonton merasa tegang, takut, dan kasihan. Drama komedi bersifat lucu dan kasar serta sering mengolok-olok tokoh-tokoh terkenal.
v  Teater Romawi Klasik
Setelah tahun 200 sebelum Masehi kegiatan kesenian beralih dari Yunani ke Roma, begitu juga Teater. Namun mutu Teater Romawi tak lebih baik daripada teater Yunani. Teater Romawi menjadi penting karena pengaruhnya kelak pada zaman Renaisans. Teater pertama kali dipertunjukkan di kota Roma pada tahun 240 SM. Pertunjukan ini dikenalkan oleh Livius Andronicus, seniman Yunani. Teater Romawi merupakan hasil adaptasi bentuk teater Yunani. Hampir di setiap unsur panggungnya terdapat unsur pemanggungan teater Yunani. Namun demikian teater Romawi pun memiliki kebaruan-kebaruan  dalam penggarapan dan penikmatan yang asli dimiliki oleh masyarakat Romawi dengan ciri-ciri sebagi berikut :
  • Koor tidak lagi berfungsi mengisi setiap adegan .
  • Musik menjadi pelengkap seluruh adegan. Tidak hanya menjadi tema cerita tetapi juga menjadi ilustrasi cerita.
  • Tema berkisar pada masalah hidup kesenjangan golongan menengah.
  • Karekteristik tokoh tergantung kelas yaitu orang tua yang bermasalah dengan anak-anaknya atau kekayaan, anak muda yang melawan kekuasaan orang tua dan lain sebagainya.
  • Seluruh adegan terjadi di rumah,  di jalan dan di halaman
Bentuk – bentuk pertunjukan yang terkenal di zaman Romawi klasik adalah:
  • Tragedi. Satu-satunya bentuk tragedi yang terkenal dan berhasil diselamatkan adalah karya Lucius Anneus Seneca ( 4 SM-65 M) dengan ciri-ciri:
’  Plot cerita terdiri dari 5 babak dengan struktur cerita yang terperinci jelas
’  Adegan berlangsung dalam ketegangan tinggi
’  Dialog ditulis dalam bentuk sajak
’  Tema cerita seputar hubungan antara alam kemanusiaan dan alam gaib
’  Menggunakan teknik monolog, bisikan-bisikan pada beberapa tokoh penting yang mengungkapkan isi hati.
  • Farce Pendek. Farce (pertunjukan jenaka) sejak abad 1 SM menjadi bagian sastra dan menjadi bentuk drama yang terkenal. Bentuk pertunjukan teater tertua pada zaman teater Romawi Klasik  ini ciri-cirinya adalah sebagai berikut:
’  Selalu menggunakan tokoh yang sama dan sangat tipikal, misalnya tokoh badut tolol yang bernama Maccus. Tokoh yang serakah dan rakus         bernama Bucco. Sedangkan Pappus adalah tokoh yang tua dan mudah ditipu.
’  Plot cerita  berupa tipuan-tipuan dan hasutan-hasutan yang dilakukan para badut dimana musik dan tari menjadi unsur penting dalam menjaga   jalannya cerita.
’  Menggunakan Seting suasana  alam pedesaan
  • Mime. Mime muncul di zaman Yunani sekitra abad 5 SM dan kemudian masuk Romawi sekitar tahun 212 SM ini ciri-cirinya adalah:
’  Banyak  terdapat adegan-adegan lucu, singkat, dan impovisasi
’  Tokoh wanita dimainkan oleh pemain wanita
’  Para pemiannya tidak mengenakan topeng
’  Cerita yang dibawakan bertema perzinahan, menentang sakramen, dan upacara gereja
Teater Romawi merosot setelah bentuk Republik diganti  dengan kekaisaran tahun 27 Sebelum Masehi dan lenyap setelah terjadi penyerangan bangsa-bangsa Barbar serta  munculnya kekuasaan gereja. Pertunjukan teater terakhir di Roma terjadi tahun 533.
v  Teater Abad Pertengahan
Dalam tahun 1400-an dan 1500-an, banyak kota di Eropa mementaskan drama untuk merayakan hari-hari besar umat Kristen. Drama-drama dibuat berdasarkan cerita-cerita Alkitab dan dipertunjukkan di atas kereta, yang disebut pegeant, dan ditarik keliling kota. Bahkan kini pertunjukan jalan dan prosesi penuh warna diselenggarakan diseluruh dunia untuk merayakan berbagai hari besar keagamaan. Para pemain drama pageant menggunakan tempat dibawah kereta untuk menyembunyikan peralatan. peralatan ini digunakan untuk efek tipuan, seperti menurunkan seorang aktor dari atas ke panggung.  Para pemain pegeant memainkan satu adegan dari kisah dalam Alkitab, lalu berjalan lagi. Pegeant lain dari aktor-aktor lain untuk adegan berikutnya, menggantikannya. Aktor-aktor pegeant seringkali adalah para perajin setempat yang memainkan adegan yag menunjukan keahlian mereka.Orang berkerumun untuk menyaksikan drama pegeant religius di Eropa. drama ini populer karena pemainnya berbicara dalam bahasa sehari-hari, bukan bahasa Latin yang merupakan bahasa resmi gereja-gereja Kristen.
Ciri-ciri  teater abad Pertengahan adalah sebagai berikut:
  • Drama dimainkan oleh aktor-aktor yang belajar di universitas sehingga dikaitkan dengan masalah filsafat dan agama.
  • Aktor bermain di panggung di atas kereta yang bisa dibawa berkeliling  menyusuri jalanan
  • Lirik-lirik dialog drama menggunakan dialek atau bahasa
  • Drama banyak disispi cerita kepahlawanan yang dibumbui cerita percintaan.
  • Drama diaminkan di tempat umum dengan memeungut bayaran.
  • Drama tidak memiliki nama pengarang
v  Reanissance
Abad 17 memberi sumbangan yang sangat berarti bagi kebudayaan Barat. Sejarah abad 15 dan 16 ditentukan oleh penemuan-penemuan penting yaitu mesin, kompas, dan mesin cetak. Semangat baru muncul untuk menyelidiki kebudayaan Yunani dan Romawi klasik. Semangat ini disebut semangat Reanissance yang berasal dari kata renaitre yang berarti kelahiran kembali manusia untuk mendapatkan semangat hidup baru. Gerakan yang menyelidiki semangat ini disebut gerakan Humanisme.
Pusat-pusat aktivitas teater di Italia adalah istana-istana dan akademi. Di gedung-gedung teater milik para bangsawan inilah dipentaskan naskah-naskah yang meniru drama-drama klasik. Para aktor kebanyakan pegawai-pegawai istana dan pertunjukan diselenggarakan dalam pesta-pesta istana.
Ada 3 jenis drama yang dikembangkan, yaitu : Tragedi, Komedi dan Pastoral  ataun drama  yang membawakan kisah-kisah percintaan antara dewa-dewa dengan para gembala di daerah pedesaan. Namun nilai seni ketiganya masih rendah. Meskipun demikian gerakan mereka memiliki arti penting karena mulailah Eropa mengenal drama yang jelas struktur bentuknya.
Ciri-ciri teater jaman Reanissance
  • Naskah lakon yang dipertunjukan meniru teater zaman Yunani klasik.
  • Cerita bertema Mitologi atau kehidupan sehari-hari
  • Tata buasana dan seting yang dipergunakan sangat inofatif.
  • Pelaksanaan bentuk teater diatur oleh kerajaan maupun universitas sehingga moral pengetahuan perspektif dan Fagade Roma.
  • Menggunakan panggung prosenium yaitu bentuk panggung yang memisahkan area panggung dengan penonton.
Pada zaman ini juga melahirkan satu bentu teater yang disebut Commedia Dell’arte. Merupakan bentuk teater rakyat Italia yang berkembang di luar lingkungan istana dan akademisi. Pada tahun 1575 bentuk ini sudah populer di Italia. Kemudian menyebar luas di Eropa dan mempengaruhi semua bentuk komedi yang diciptakan pada tahun 1600. Ciri Khas Commedia Dell’arte adalah:
  • Para pemain dibebaskan berimprovisasi mengikuti jalannya cerita  dan dituntut memilikik pengetahuan luas yang dapat mendukung permainan  improvisasinya.
  • Menggunakan naskah lakon yang berisi garis besar cerita
  • Cerita yang dimainkan bersumber pada cerita yang diceritakan secara turun menurun.
  • Cerita terdiri dari tiga babak didahului prolog panjang. Plot cerita berlangsung dalam suasana adegan lucu.
  • Peristiwa  ceritaberlangsung dan berpindah secara cepat .
  • Terdapat  tiga tokoh  yang selalu muncul, yaitu tokoh penguasa, tokoh penggoda, dan tokoh pembantu.
  • Tempat pertunjukannya di lapangan kota dan panggung-panggung sederhana.
  • Setting panggung sederhana yaitu; rumah, jalan, dan lapangan
v  Teater Zaman Elizabeth
Pada tahun 1576, selama pemerintahan Ratu Elizabeth I, gedung teater besar dari kayu dibangun di London Inggris. Gedung ini dibangun seperti lingkaran sehingga penonton bisa duduk dihampir seluruh sisi panggung. Gedung teater ini sangat sukses sehingga banyak gedung sejenis dibangun disekitarnya.salah satunya yang disebut Globe, gedung teater ini bisa menampung 3.000 penonton. Penonton yang mampu membeli tiket duduk di sisi-sisi panggung. Mereka yang tidak mampu membeli tiket berdiri di sekitar panggung.
Globe mementaskan drama-drama karya William Shakespeare, penulis drama terkenal dari inggris yang hidup dari tahun 1564 sampai tahun1616. Ia adalah seorang aktor dan penyair, selain penulis drama. Ia biasanya menulis dalam bentuk puisi atau sajak. Beberapa ceritanya melakukan monolog panjang, yang disebut solloquy, yang menceritakan gagasan-gagasan mereka kepada penonton. Ia menulis 37 drama dengan berbagai tema, mulai dari pembunuhan dan perang sampai cinta dan kecemburuan. Ciri-ciri teater zaman Elizabeth adalah:
  • Pertunjukan dilaksanakan sian g hari dan tidak mengenal waktu istirahat.
  • Tempat adegan ditandai dengan ucapan dengan disampaikan dalam dialog para tokoh.
  • Tokoh wanita dimainkan oleh pemain anak-anak laki-laki. Tidak pemain wanita.
  • Penontonya berbagai lapisan masyarakat dan diramaikan oleh penjual makanan dan minuman.
  • Menggunakan naskah lakon.
  • Corak pertunjukannya merupakan perpaduan antara teater keliling dengan teater sekolah dan akademi yang keklasik-klasikan.
v  Teater abad 17 di Spanyol dan Perancis
Drama-drama agama hanya berkembang di Spanyol Utara dan Barat karena sebagian besar Spanyol dikuasai Islam. Ketika kekuasaan Arab dapat diusir dari Spanyol kira-kira tahun 1400 maka drama dijadikan salah satu media untuk “menghistorikan” kembali bekas jajahan Arab. Teater berkembang sebagai media dakwah agama. Inilah sebabnya drama agama  berkembang di Spanyol.Gereja sangat berperan dalam pengembangan drama. Pertunjukan yang berkembang adalah Autos Sacramentales dengan ciri ciri antara lain:
  • Tokoh-tokoh dalam cerita adalah tokoh simbolik, misalnya si Dosa, Si Bijaksana dipertemukan dengan tokoh supranatural dan manusia biasa dengan cerita berdasarkan  kehidupan sekuler maupun ajaran-ajaran gereja.
  • Dipertunjukkan di atas kereta kuda (2 tingkat) yang dinamai carros. Kereta-kereta kuda tadi juga membawa setting.
  • Pertunjukan dilakukan oleh rombongan profesional yang selalu berhubungan dengan gereja
  • Pertunjukannya selalu diselingi tarian dan interlude Farce pendek.
Unsur Farce berdampak masuknya sekularisme dalam drama Autos dan berakibat gereja  melarang Autos pada tahun 1765 karena merajalelanya semangat Farce dan menyimpang dari ajaran-ajaran agama.
Drama di luar gereja  yaitu drama sekuler juga berkembang pesat. Pada tahun 1579 telah berdiri gedung permanen di Madrid. Bentuk gedung teater ini mirip dengan Elizabethan di Inggris. Pelopor drama sekuler di Spanyol ialah lope de rueda (1510-1565). Ia dramawan, aktor dan produsen yang mendirikan gedung teater permanen di Spanyol. Tetapi profesionalisme dalam teater  baru berkembang setelah kematiannya tahun 1580-an.
Pada abad 17  Teater di Perancis menjadi  penerus teater abad pertengahan, yaitu teater yang mementingkan pertunjukan dramatik, bersifat seremonial dan ritual kemasyarakatan. terdapat kecenderungan menulis naskah yang menggabungkan drama-drama klasik dengan tema-tema sosial yang dikaitkan dengan budaya pikir kaum terpelajar. Dramawan Perancis bergerak lebih ekstrim dalam mengembangkan bentuk baru tragedi klasik yang melampaui tragedi Yunani yang padat, cermat, dan santun. Lahirlah Klasisme baru atau neo klasik yang  memiliki konvensi sebagai berikut:
  • Mengikuti dan memahami konsep pembuatan naskah klasik,
  • Menjaga kemurnian tipe drama,
  • Setia kepada kaidah klasik,
  • Berorientasi pada fungsi drama,
  • Menitikberatkan pada konsep tentang kebenaran dan moral kebaikan,
  • Setia kepada keutuhan  waktu, tempat,  dan peristiwa,
  • Hanya mengakui dua bentuk drama yaitu tragedi dan komedi,
  • Konsep Neoklasik mengajarkan tentang kebenaran.
v  Teater  Restorasi di Inggris
Zaman restorasi adalah zaman kebangkitan kembali kegiatan teater di Inggris setelah kaum Puritan yang berkuasa menutup kegiatan teater.  Segala bentuk teater dilarang.Namun setelah Charles II berkuasa kembali, ia menghidupkan kembali teater. Adapun ciri- ciri teater pada zaman restorasi adalah:
  • Tema cerita bersifat umum dan penonton sudah mengenalnya.
  • Tokoh wanita diperankan oleh Pemain wanita
  • Penonton tidak lagi semua lapisan masyarakat, tetapi hanya kaum menengah dan kaum atasan,
  • Gedung teater  mencontoh gaya Italia.
  • Pertunjukan diselenggarakan di  gedung  proscenium diperluas dengan menambah area yangdisebut apron.sehingga terjadi komunikasi yang intim antara pemain dan penonton. .
  • Setting panggung bergambar perspektif dan  lebih bercorak umum, misalnya taman atau istana.
v  Teater Abad 18
Di abad ke 17, teater Italia memiliki struktur-struktur bangunan dan panggung-panggung arsitektural. Panggung-panggung itu dihiasi  setting-setting perspektif yang dilukis.Letak panggung dipisahkan dengan  auditorium oleh lengkung prosenium. Di Inggris dan Spanyol, tidak terdapat pemain  wanita dalam pementasan teater mereka. Tradisi tersebut berlangsung sampai kira-kira 1587. Di abad ke 17, perusahaan-perusahaan seni peran Perancis dan Inggris mulai menambahkan wanita ke dalam rombongan-rombongan pertunjukan mereka. Di Amerika, teater kolonial baru mulai muncul. Mereka menggunakan sandiwara-sandiwara dan aktor-aktor Inggris. Abad ke 18 adalah masa agung pertama teater untuk kaum bangsawan.
Pada abad 18 teater di Perancis dimonopoli oleh pemerintah dengan Comedie Francaise-nya. Secara tetap mereka mementaskan komedi dan tragedi, sedangkan bentuk opera, drama pendek dan burlesque dipentaskan oleh rombongan teater Italia : Comedie Italienne yang biasanya mementaskan di pasar-pasar malam. Sampai akhir abad XVIII Perancis menjadi pusat kebudayaan Eropa. Drama Perancis yang neoklasik menjadi model di seluruh Eropa.  Kecenderungan neoklasik menjalar ke seluruh Eropa.
Selama abad18 Italia berusaha mempertahankan bentuk Commedia Dell’arte. Penulis besarnya ialah Carlo Goldoni. Karya-karyanya berupa komedi yang kebanyakan agak sentimental tetapi tergolong bermutu. Penulis naskah yang lain adalah Carlo Gozzi. Ia tidak meneruskan tradisi dell’arte tetapi menciptakan sendiri komedi-komedi fantasi dengan adegan-adegan penuh improvisasi. Commedia dell’arte sendiri mulai merosot dan tidak populer di Italia pada akhir abad XVIII. Sedang dalam tragedi, penulis Italia abad itu yang menonjol hanya Vittorio Alfieri.
Teater di Jerman sudah berkembang pada zaman Renaissance (1500-1600) meskipun dalam bentuk yang belum sempurna, inilah sebabnya teater Jerman tak berbicara banyak di Eropa sampai tahun 1725. Teater Jerman dengan model Comedie Francaise, menciptakan  suatu organisasi teater paling baik di Eropa pada akhir abad XVIII sejak itu gerakan teater Jerman berpaling dari ide neoklasik kepada aliran romantik.

v  Teater Awal Abad ke 19

Drama Romantik berkembang antara tahun 1800-1850 karena memudarnya gagasan neoklasik dan terjadinya peristiwa revolusi Perancis . Revolusi perancis — yang berhasil mengubah struktur dan pola kehidupan rakyat Perancis –menghadirkan gerakan baru di dunia teater yang mendorong terciptanya formula penulisan tema dan penokohan dalam naskah lakon.
Ciri-ciri pertunjukan teater Romantik adalah:
  • menggunakan naskah dengan struktur yang bersifat longgar dengan karakter tokoh yang berubah-ubah di setiap episode. Setiap bagian
  • Plot  cerita memiliki episodenya sendiri (plot episodik)
  • Inti cerita adalah masalah kebebasan . Memberontak pada fakta dan aturan yang bersifat klasik.
  • Membawakan cerita kesejarahan yang memuat adegan perang, pemberontakan, pembakaran istana, perang tanding dan sebagainya.
  • Panggung dihiasi dengan gambar-gambar yang sangat indah.
  • Setting perspektif diganti dengan lukisan untuk layar sayap panggung dan sayap belakang dan bentuk skeneri ditampilkan bergantian.
Di awal abad ke 19, sebuah pergerakan teater besar yang dikenal dengan Romantik mulai berlangsung di Jerman. August Wilhelm Schlegel adalah seorang penulis Roman Jerman yang menganggap Shakespeare adalah salah satu dari pengarang naskah lakobn terbesar dan menerjemahkan 17 dari naskah lakonnya. Penggemar besar Shakespeare lain adalah Ludwig Tiecky yang sangat berperan dalam memperkenalkan karya-karya Shakespeare kepada orang-orang Jerman. Salah satu lakon tragedinya adalah Kaiser Octaveous. Pengarang Jerman lainnya di awal abad ke 19 antara lain, Henrich von Kleist yang dikenal sebagai penulis lakon terbaik jaman  itu, Christian Grabbe yang menulis Don Jaun dan Faust, Franz Grillparzer yang dipandang sebagai penulis lakon serius pertama Austria, dan George Buchner yang menulis Danton’s Death dan Leoce & Lena.
Di Inggris, pergerakan Romantik dipicu oleh naskah lakon karya Samuel Taylor Coleridge, Henry James Byron, Percy Bysshe Shelley, dan John Keats. Dengan naskah lakon seperti, Remorse karya Coleridge, Marino Fanceiro karya Byron, dan The Cinci karya Shelley. Inggris menjadi berpengaruh kuat dalam mempopulerkan aliran Romantik. Di Perancis,  Victor Hugo menulis Hernani ( tahun 1830) . The Moor of Venice adalah naskah lakon yang ditulis oleh Alfred de Vigny yang  merupakan  adaptasi Othello. Alexandre Dumas pere menulis lakon Henri III and his Court dan Christine . Alfred de Musset menulislakon A Venician Night dan No Trifling With Love.

v  Teater Abad 19 dan Realisme

Banyak perubahan  terjadi di Eropa  pada abad ke 19. karena  Revolusi Industri. Orang-orang berkelas  pindah ke kota dan teater pun  mulai berubah. Bentuk-bentuk baru teater diciptakan untuk pekerja industri seperti Vaudeville (aksi-aksi seperti rutinitas lagu dan tari), Berlesque (karya-karya drama yang membuat subyek nampak menggelikan), dan melodrama (melebih-lebihkan karakter dalam konflik – pahlawan vs penjahat). Sandiwara-sandiwara romantis dan kebangkitan klasik dimainkan di  gedung teater-teater yang megah pada masa itu.  Amerika Serikat masih mengandalkan gaya teater dan lakon Eropa. Di tahun 1820, lilin-lilin dan lampu-lampu minyak digantikan oleh lampu-lampu gas di gedung- gedung teater abad 19. Gedung Teater Savoy di London (1881)  yang mementaskan drama- drama Shakespeare adalah gedung teater  pertama  yang panggungnya diterangi lampu  listrik.
Pada abad 19 di Inggris sebuah  drama kloset atau naskah lakon yang sepenuhnya tidak dapat dipentaskan bermunculan. Tercatat nama-nama penulis drama kloset, seperti Wordswoth, Coleridge, Byron, Shelley, Swinburne, Browning, dan Tennyson. Baru pada akhir abad 19  teater di Inggris juga menunjukkan tanda-tanda kehidupan dengan munculnya Henry Arthur Jones, Sir Arthur Wing Pinero, dan Oscar Wilde. Juga terlihat kebangkitan  pergerakan teater independen yang menjadi perintis pergerakan “Teater Kecil” yang  nanti di abad ke 20 tersebar luas, misalnyai Theatre Libre Paris, Die Freie Buhne Berlin, independent Theater London dan Miss Horniman’s Theater Manchester yang mana Ibsen, Strindberg, Bjornson, Yeats, Shaw, Hauptmann dan Synge mulai dikenal masyarakat. Selama  akhir abad 19 di Jerman muncul dua penulis lakon kaliber  internasional yaitu Hauptmann dan Sudermann. Seorang doktor Viennese, Arthur Schnitzler, menjadi dikenal luas di luar tempat asalnya Austria dengan naskah lakon yang ringan dan menyenangkan berjudul Anatol. Di Perancis, Brieux menjadi perintis teater realistis dan klinis. Belgia menghasilkan Maeterlinck.  Di Paris, Cyrano de Bergerac, karya Edmond Rostand. Sementara itu di Italia Giacosa menulis lakon  terbaiknya yang banyak dikenal, As the Leaves, dan mengarang syair-syair untuk opera, La Boheme, Tosca, dan Madame Butterfly. Verga menulis In the Porter’s Lodge, The Fox Hunt, dan Cavalleria Rusticana, yang juga lebih dikenal melalui opera Muscagni;.Penulis lakon Italia  abad 19 yang paling terkenal adalah, Gabriel d’Annunzio, Luigi Pirandello dan Sem Benelli dengan lakon berjudul  Supper of Jokes yang dikenal di Inggris dan Amerika sebagai The Jest. Bennelli  dengan lakon Love of the Three Kings-nya dikenal di luar Italia dalam bentuk opera. Di Spanyol Jose Echegaray menulis The World and His Wife; Jose Benavente dengan karyanya Passion Flower dan Bonds of Interest dipentaskan di Amerika; dan Sierra bersaudara dengan naskah lakon  Cradle Song menjadi penghubung   abad ke 19 dan 20, seperti halnya Shaw, Glasworthy, dan Barrie di Inggris, serta Lady Augusta Gregory dan W.B. Yeats di Irlandia.
Sampai abad 19 teater di Amerika dikuasai oleh “Stock Company” dengan sistem bintang. Sebuah rombongan drama lengkap dengan peralatannya serta bintang-bintangnya mengadakan perjalanan keliling. Dengan dibangunnya jaringan kereta api Stock Company makin berkembang (1870). Namun akibatnya juga bahwa seni Teater tersebar luar di seluruh Amerika. Maka muncullah teater-teater lokal. Stock company lenyap sekitar tahun 1900. Sindikat teater berkuasa di Amerika dari tahun 1896-1915. Realisme menguasai panggung-panggung teater Amerika pada  Abad 19. Usaha melukiskan kehidupan nyata secara teliti dan detail ini dimulai dengan pementasan-pementasan naskah-naskah sejarah. Setting dan kostum diusahakan sepersis mungkin dengan zaman cerita. Charles Kenble dalam memproduksi “king john” tahun 1823 (naskah Shakespeare) mengusahakan ketepatan sampai hal-hal yang detail.
Zaman Realisme yang lahir pada penghujung abad 19 dapat dijadikan landas pacu lahirnya seni teater modern di barat. Penanda yang kuat adalah timbulnya gagasan untuk mementaskan lakon kehidupan di atas pentas dan menyajikannya seolah peristiwa itu terjadi secara nyata. Gagasan ini melahirkan konvensi baru dan mengubah konvensi lama yang lebih menampilkan seni teater sebagai sebuah pertunjukan yang memang dikhususkan untuk penonton. Tidak ada lagi pamer keindahan bentuk akting dan puitika kata-kata dalam Realisme. Semua ditampilkan apa adanya seperti sebuah kenyataan kehidupan.
Diiringi dengan perkembangan teknologi yang dapat digunakan untuk mendukung artistik pentas, Realisme menjadi primadona di dunia barat. Seni teater yang menghadirkan penggal kenyataan hidup di atas pentas ini begitu membius penggemarnya. Para penonton dibuat terhanyut dan larut dalam cerita-cerita yang dimainkan. Pesona semacam ini membuat Realisme begitu berpengaruh dalam waktu yang cukup lama.

v  Teater Abad 20

Teater telah berubah selama ber -abad-abad. Gedung-gedung pertunjukan modern memiliki efek-efek khusus dan teknologi  baru. Orang datang ke gedung pertunjukan tidak hanya  untuk menyaksikan teater melainkan juga untuk menikmati  musik, hiburan, pendidikan, dan mempelajari hal-hal  baru. Rancangan-rancangan panggung termasuk pengaturan panggung arena, atau yang kita sebut saat ini, Teater di Tengah-Tengah Gedung.  Dewasa ini, beberapa cara untuk mengekspresikan karakter-karakter berbeda dalam pertunjukan-pertunjukan (disamping nada suara) dapat melalui musik, dekorasi, tata cahaya, dan efek elektronik. Gaya-gaya pertunjukan realistis dan eksperimental ditemukan dalam teater Amerika saat ini.
Seiring dengan perkembangan waktu. Kualitas pertunjukan Realis oleh beberapa seniman dianggap semakin menurun dan membosankan. Hal ini memdorong para pemikir teater untuk menemukan satu bentuk ekspresi baru yang lepas dari konvensi yang sudah ada. Wilayah jelajah artisitk dibuka selebar-lebarnya untuk kemungkinan perkembangan bentuk pementasan seni teater. Dengan semangat melawan pesona Realisme, para seniman mencari bentuk pertunjukannya sendiri. Pada awal abad 20 inilah istilah teater Eksperimental berkembang. Banyak gaya baru yang lahir baik dari sudut pandang pengarang, sutradara, aktor ataupun penata artistik. Tidak jarang usaha mereka berhasil dan mampu memberikan pengaruh seperti gaya; Simbolisme, Surealisme, Epik, dan Absurd. Tetapi tidak jarang pula usaha mereka berhenti pada produksi pertama. Lepas dari hal itu, usaha pencarian kaidah artistik yang dilakukan oleh seniman teater modern patut diacungi jempol karena usaha-usaha tersebut mengantarkan kita pada keberagaman bentuk ekspresi dan makna keindahan.
v  Gaya Pementasan
Gaya dapat didefinisikan sebagai corak ragam penampilan sebuah pertunjukan yang  merupakan wujud ekspresi dari:
  • Cara pribadi sang pengarang lakon dalam menerjemahkan cerita kehidupan di atas pentas
  • Konvensi atau aturan-aturan pementasan yang berlaku pada masa lakon ditulis
  • Konsep dasar sutradara dalam mementaskan lakon yang dipilih untuk menegaskan makna tertentu.
Gaya penampilan pertunjukan teater secara mendasar dibagi ke dalam tiga (3) gaya besar yaitu; Presentasional, Representasional (Realisme), dan Post-Realistic.
v  Presentasional
Hampir semua teater klasik menggunakan gaya ini dalam pementasannya. Gaya Presentasional memiliki ciri khas, “pertunjukan dipersembahkan khusus kepada penonton”. Bentuk-bentuk teater awal selalu menggunakan gaya ini karena memang sajian pertunjukan mereka benar-benar dipersembahkan kepada penonton. Yang termasuk dalam gaya ini adalah:
Teater Klasik Yunani dan Romawi
Teater Timur (Oriental) termasuk teater tradisional Indonesia
Teater abad pertengahan
Commedia dell’arte, teater abad 18
Unsur-unsur gaya Presentasional adalah:
  • Para pemain bermain langsung di hadapan penonton. Artinya, karya seni pemeranan yang ditampilkan oleh para aktor di atas pentas benar-benar disajikan kepada khalayak penonton sehingga bentuk ekspresi wajah, gerak, wicara sengaja diperlihatkan lebih kepada penonton daripada antarpemain.
  • Gerak para pemain diperbesar (grand style), menggunakan wicara menyamping (aside), dan banyak melakukan soliloki (wicara seorang diri).
  • Menggunakan bahasa puitis dalam dialog dan wicara.
Beberapa lakon yang biasa dan dapat dipentaskan dengan gaya Presentasional, di antaranya adalah:
  • Romeo and Juliet, Piramus dan Thisbi, Raja Lear, Machbeth (William Shakespeare)
  • Akal Bulus Scapin, Tartuff, Tabib Gadungan (Moliere)
  • Oidipus (Sopokles)
  • Epos dan Roman Sejarah yang biasa dipentaskan dalam teater tradisonal Indonesia
v  Representasional (Realisme)
Seiring berkembangya ilmu pengetahuan dan teknologi pada abad 19, bersama itu pula teknik tata lampu dan tata panggung maju pesat sehingga para seniman teater berusaha dengan keras untuk mewujudkan gambaran kehidupan di atas pentas. Perwujudan dari usaha ini melahirkan gaya yang disebut Representasional atau biasa disebut Realisme. Gaya ini berusaha menampilkan kehidupan secara nyata di atas pentas sehingga apa yang disaksikan oleh penonton seolah-olah bukanlah sebuah pentas teater tetapi potongan cerita kehidupan yang sesungguhnya. Para pemain beraksi seolah-olah tidak ada penonton yang menyaksikan. Tata artistik diusahakan benar-benar menyerupai situasi sesungguhnya di mana lakon itu berlangsung.
Gaya Realisme sangat mempesona karena berbeda sekali dengan gaya Presentasional. Para penonton tak jarang ikut hanyut dalam laku cerita sehingga mereka merasakan bahwa apa yang terjadi di atas pentas adalah kejadian sesungguhnya.  Unsur-unsur gaya Representasional adalah:
  • Aktor saling bermain di antara mereka, beranggapan seolah-olah penonton tidak ada sehingga mereka benar-benar memainkan sebuah cerita seolah-olah sebuah kenyataan
  • Menciptakan dinding keempat (the fourth wall) sebagai pembatas imajiner antara penonton dan pemain
  • Konvensi seperti wicara menyamping (aside) dan soliloki sangat dibatasi
  • Menggunakan bahasa sehari-hari.
Beberapa lakon yang biasa dan dapat dipentaskan dengan gaya Representasional, di antaranya adalah:
  • Kebun Cherry, Burung Manyar, Penagih Hutang, Pinangan (Anton Chekov)
  • Hedda Gabbler, Hantu-hantu, Musuh Masyarakat (Henrik Ibsen)
  • Senja Dengan Dua Kelelawar, Penggali Intan, Penggali Kapur (Kirdjomuljo)
  • Titik-titik Hitam (Nasjah Djamin)
  • Tiang Debu, Malam Jahanam (Motinggo Boesje)
Dalam perkembangannya gaya Representasional atau Realisme ini melahirkan gaya-gaya baru yang masih berada dalam ruang lingkupnya yaitu; Naturalisme, Selektif Realisme, dan Sugestif Realisme (Mary McTigue, Ibid., 162).
Naturalisme merupakan sub gaya Realisme yang paling ekstrim. Gaya ini menghendaki sajian pertunjukan yang benar-benar mirip dengan kenyataan. Setiap detil dan struktur tata panggung harus benar-benar mirip seperti aslinya sehingga panggung merupakan potret kehidupan sesungguhnya. Naturalisme, selain menuntut pendekatan ilmiah, juga percaya bahwa kondisi manusia amat ditentukan oleh faktor lingkungan dan keturunan. Dalam prakteknya kaum naturalisme banyak mengungkapkan kemerosotan dan kebobrokan masyarakat golongan bawah. Drama-drama mereka penuh dengan kebusukan manusia dan  hal-hal yang tak menyenangkan “dalam kehidupan”. Panggung harus menggambarkan kenyataan sebenarnya yang mereka ambil dari kehidupan nyata. Tokoh naturalisme yang sangat penting ialah Emile Zola. Ia mengangkat : “Bukan drama, tetapi kehidupan yang harus disajikan pada penonton”. Sebagai gerakan teater, naturalisme hanya hidup sampai tahun 1900 setelah itu hanya realisme yang semakin berpengaruh seiring dengan perkembangan teknologi terutama kelistrikan yang dapat diguankan untuk menunjang teknik pemanggungan.
Selektif Realisme, merupakan cabang gaya Realisme yang memilih atau menyeleksi detil tertentu dan digabungkan dengan unsur-unsur simbolik dalam manyajikan keseluruhan tata ruang yang ada di atas pentas. Misalnya, dinding, pintu, dan jendela dibuat seperti aslinya, tetapi atap rumah hanya dtampilkan dalam bentuk kerangka. Sedangkan dalam Sugestif Realisme menggunakan bagian-bagian dari bangunan atau ruang yang dipilih dan ditampilkan secara mendetil untuk memberikan gambaran sugestif bentuk keseluruhannya. Misalnya, satu tiang ditampilkan untuk memberikan gambaran ruang Istana dengan bantuan tata lampu yang mendukung, selebihnya adalah imajinasi.
v  Gaya Post-Realistic
Dalam abad 20, seniman seni teater melakukan banyak usaha untuk membebaskan seni teater dari batasan-batasan konvensi tertentu (Presentasional dan Representasional) dan berusaha memperluas cakrawala kreativitas baik dari sisi penulisan lakon maupun penyutradaraan. Gaya ini membawa semangat untuk melawan atau mengubah gaya Realisme yang telah menjadi konvensi pada masa itu. Setiap seniman memiliki caranya tersenidiri dalam mengungkapkan rasa, gagasan, dan kreasi artistiknya. Banyak percobaan dilakukan sehingga pada masa tahun 1950-1970 di Eropa dan Amerika gaya ini dikenal sebagai gaya Teater Eksperimen. Meskipun pada saat ini banyak teater yang hadir dengan gaya Realisme tetapi kecenderungan untuk melahirkan gaya baru masih saja lahir dari tangan-tangan kreatif pekerja seni teater. Banyak gaya yang dapat digolongkan dalam Post-Realistic, beberapa di antaranya sangat berpengaruh dan banyak di antaranya yang tidak mampu bertahan lama.
Unsur-unsur gaya Post-Realistic adalah:
  • Mengkombinasikan antara unsur Presentasional dan Representasional
  • Menghilangkan dinding keempat (the fourth wall), dan terkadang berbicara langsung atau kontak dengan penonton
  • Bahasa formal, sehari-hari, puitis digabungkan dengan beberpa idiom baru atau dengan bahasa slank.
Beberapa gaya Post-Realistic yang berpengaruh adalah:
  • Simbolisme, sebuah gaya yang menggunakan simbol-simbol untuk mengungkapkan makna lakon atau ekspresi dan emosi tertentu. Meskipun pada awalnya gaya ini muncul tahun 1180 di Perancis, namun baru memegang peranan berarti pada tahun 1900. Simbolisme tidak terlalu mempercayai kelima panca indera dan pemikiran rasional untuk memahami kenyataan. Intuisi dipercayai untuk memahami kenyataan karena kenyataan tak dapat dipahami secara logis, maka kebenaran itu juga tidak mungkin diungkapkan secara logis pula. Kenyataan yang hanya dapat dipahami melalui intuisi itu harus diungkapkan dalam bentuk simbol-simbol. Untuk keperluan tersebut gaya ini mencoba mensintesiskan beberapa cabang seni dalam pertunjukan seperti; seni rupa (lukisan), musik, tata lampu, seni tari, dan unsur seni visual lain. Simbolisme sering juga disebut sebagai Teater Multi-Media.
  • Teatrikalisme, mencoba menarik perhatian penonton secara langsung dan menyadarkan mereka bahwa yang mereka tonton adalah pertunjukan teater dan bukan penggal cerita kehidupan seperti dalam gaya Realisme. Sengaja menghapus “dinding keempat”, menggunakan properti imajiner atau tata dekorasi yang berganti-ganti di hadapan penonton.
  • Surealisme, sebuah gaya yang mendapat pengaruh dari berkembangnya teori psikologi Sigmund Freud dalam usahanya untuk mengekspresikan dunia bawah sadar manusia melalui simbol-simbol mimpi, penyimpangan watak atau kejiwaan manusia, dan asosiasi bebas gagasan. Gaya ini begitu menarik karena penonton seolah dibawa ke alam lain atau dunia mimpi yang terkadang muskil tapi hampir bisa dirasakan dan pernah dialami oleh semua orang.
  • Ekspresionisme, istilah ini diambil dari gerakan seni rupa pada akhir abad 19 yang dipelopori oleh pelukis Van Gogh dan Gauguin. Namun gerakan itu kemudian meluas pada bentuk-bentuk seni yang lain termasuk teater. Ekspresionisme sudah ada dalam teater jauh sebelum masa itu, hanya masih merupakan salah satu elemen saja dalam teater. Sebagai suatu gerakan teater, ia baru muncul tahun 1910 di Jerman. Sukses pertama teater ekspresionisme dicapai oleh Walter Hasenclever pada tahun 1914 dengan dramanya Sang Anak. Adapun puncak gerakan ini terjadi sekitar tahun 1918 (pada saat Perang Dunia I) dan mulai merosot tahun 1925. Meskipun mula-mula ekspresionisme berkembang di Eropa, terutama selama Perang Dunia I (1914-1918), namun pengaruhnya menjangkau ke luar Eropa dan dalam masa yang lebih kemudian. Beberapa dramawan Amerika yang terpengaruh oleh gerakan ekspresionisme ini adalah: Elmer Rice, Eugene O’neill, Marc Connelly, dan George Kaufman. Pengaruh ini terutama nampak dalam tata panggung dan elemen visual yang lebih bebas diatasnya, adegan mimpi dalam lokal realistis, misalnya adalah salah satu bentuk kebebasan itu. Jadi teknik dramatik dan pendekatan-pendekatannya dalam pemanggungan merupakan pengaruh besar ekspresionisme dalam teater abad 20 (Yakob Soemardjo: 1983-1984).
  • Teater Epik, disebut juga sebagai “teater pembelajaran”. Gaya ini menolak gaya Realisme, empaty, dan ilusi dalam usahanya mengajarkan teori atau pernytaan sosio-politis melalui penggunaan narasi, proyeksi, slogan, lagu, dan bahkan terkadang melaljui kontak lang sung dengan penonton. Gaya ini sering juga disebut “Teater Obsevasi”. Tokoh yang terkenal dalam gaya ini adalah Bertold Brecht. Teater epik digunakan oleh Brecht untuk melawan apa yang lazim disebut sebagai teater dramatik. Teater dramatik yang konvensional ini dianggapnya sebagai sebuah pertunjukan yang membuat penonton terpaku pasif. Sebab semua kejadian disuguhkan dalam bentuk “masa kini” seolah-olah masyarakat dan waktu tidak pernah berubah. Dengan demikian ada kesan bahwa kondisi sosial tak bisa berubah. Brecht berusaha membuat penontonnya ikut aktif berpartisipasi dan merupakan bagian vital dari peristiwa teater.
  • Absurdisme, gaya yang menyajikan satu lakon yang seolah tidak memiliki kaitan rasional antara peristiwa satu dengan yang lain, antara percakapan satu dengan yang lain. Unsur-unsur Surealisme dan Simbolisme digunakan bersamaan dengan irrasionalitas untuk memberikan sugesti ketidakbermaknaan hidup manusia serta kepelikan komunikasi antarsesama. Drama-drama yang kini disebut absurd, pada mulanya dinamai eksistensialisme. Persoalan eksistensialisme adalah mencari arti “Eksistensi” atau “ada”. Apa akibat arti itu bagi kehidupan sehari-hari?. Pencarian makna “ada” ini berpusat pada diri pribadi sang manusia dan keberadaannya di dunia. Dua tokoh eksistensialis yang terkemuka adalah: Jean Paul Sartre (1905) dan Albert Camus (1913-1960). Para dramawan setelah Sartre dan Camus lebih banyak menekankan bentuk absurditas dunia itu sendiri. Dan obyek absurd itu mereka tuangkan dalam bentuk teater yang absurd pula. Tokoh-tokoh Teater Absurd di antaranya, adalah: Samuel Beckett (1906), Jean Genet (1910), Harold Pinter, Edward Albee, dan Eugene Ionesco (1912).

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More