Revolusi Pendidikan Musik Melalui Music Technology Education

Perkembangan teknologi, mau tidak mau, berkontribusi signifikan terhadap pendidikan musik masa kini. Gagasan untuk mewujudkan pendidikan musik teknologi (music technology education) sebagai metode belajar musik paling mutakhir, yang merevolusi pendidikan musik cara lama, menjadi sebuah keharusan.

Musik dan sejarah umat manusia memiliki umur yang sama tuanya. Setiap kebudayaan selalu diwarnai dengan musik diurat-urat nadinya. Di dunia modern pun, musik tidak bisa dilepaskan dari berjalannya sang waktu. Sehingga, pendidikan musik (music education) telah menjadi bagian yang integral dengan pendidikan umum. Baik secara informal maupun formal, pendidikan musik selalu ada. Bahkan, penelitian demi penelitian membuktikan bahwa pendidikan musik sangat mempengaruhi kecerdasan (baca: IQ) dari seseorang. Dampak dari fakta ini adalah semakin maraknya penelitian untuk mengembangkan cara mengajar (pedagogi) musik.

Dari Pendidikan Musik ke Pendidikan Musik Teknologi

Faktor-faktor penting dalam pedagogi musik yaitu guru musik, kurikulum, dan metodologi. Hal itu menjadi bahan diskusi utama untuk menemukan “cara terbaik” mengajar musik. Kodaly, Orff Schulwerk, Suzuki, Dalcroze, sampai ke Gordon Music Learning Theory, masing-masing mempunyai pendekatan-pendekatan yang khusus untuk mentransferkan musical knowledge kepada anak didik. Mana yang terbaik dari pendekatan tersebut? Ini tentu tidak mudah dijawab. Tapi yang terpenting, masing-masing teori memiliki kontribusi signifikan untuk dunia pendidikan musik. Perkembangan teknologi, di sisi lain, mau tidak mau berkontribusi kepada revolusi dalam pendidikan musik. Ditambah dengan tekanan industri musik, yang semakin bergantung dengan teknologi terkini, mampu menciptakan diferensiasi dari music education ke music technology education (pendidikan musik teknologi. Baca: MTE). Pertanyaannya besarnya: apa itu MTE? Apakah MTE adalah sebuah keharusan atau sekedar tambahan? Apakah hadirnya MTE merupakan sebuah transformasi, evolusi, dan/atau revolusi? Dan, seberapa efektif dan efisienn MTE dibanding pendidikan musik yang konvesional? Tentunya pertanyaan-pertanyaan ini bisa secara exponentially berkembang, karena MTE itu sendiri adalah sebuah “new thing,” sehingga, misalnya kita ambil case study pihak-pihak di sebuah sekolah musik, baik pihak investor, school management, educator, student, maupun parent, mempunyai banyak hal untuk ditanyakan. Sebagai hal yang baru, apakah MTE perlu diajarkan dengan cara yang baru atau “new way?” Itu juga pertanyaan logis lainnya yang harus dicermati.

Duet Compusician dan SMI


Lahirnya majalah Compusician, di tengah belantara musik Indonesia masa kini, menjadi suatu terobosan baru yang perlu untuk semua pelaku di wilayah musik industri, akademis, dan praktis. Majalah ini berani untuk menjadi pioneer untuk berbagi informasi dan edukasi ke semua lapisan tentang musik dan perkembangan teknologi yang menyertainya. Di pihak lain, lahirnya Sekolah Musik Indonesia (SMI) di Solo, yang berfokus ke MTE, menjadi hembusan nafas illahi yang memberikan kehidupan yang baru kepada dunia pendidikan musik Indonesia yang secara jujur bisa lebih dibilang sarat muatan bisnis. SMI berani untuk mensegmentasikan kurikulum pengajarannya kepada MTE, dan ini harus diacungi jempol dan sekali lagi disupport keberadaannya. Duet Compusician dan SMI diyakini akan mampu menjadi gerbong terobosan, sekaligus kereta industri musik dan pasar pendidikan musik Indonesia. Bahkan, bukan tidak mungkin akan membawa leapfrog (lompatan katak), industri ekonomi kreatif Indonesia sehingga mampu berbicara di level dunia. Kenapa tidak? Tidak bisa dipungkiri, dan sudah diakui semua pihak bahwa secara musikalitas, Indonesia sangat kaya. Dengan ratusan suku asli Indonesia, etnik musik Indonesia saja tidak akan habis untuk digali dalam 100 tahun. Yang dibutuhkan adalah terobosan teknologi untuk menggali semua kekayaan ini, dan fasilitas yang ideal untuk sampai ke tujuan. Bagaimana dengan pelaku industri? Para vendor? Karena pada akhirnya peran pelaku-pelaku bisnis sangat menentukan idealisme akan berjalan atau tidak. Sebagai studi kasus, diambil alihnya Digidesign oleh Avid, sehingga lahir versi ProTools M-Powered dari leading audio production, sofware Pro Tools dengan jelas memperlihatkan bahwa para pelaku industri pun sudah bersiap-siap untuk mendukung penuh perkembangan music technology sampai ke konsumen awam. Dikeluarkannya versi Pro Tools yang sangat terjangkau, tentunya sangat mencengangkan bagi early adopter music technology. Masih segar di benak kita, bagaimana untuk sekedar melihat saja begitu sulit. Sekarang, dengan harga semurah telepon seluler pun, kita bisa mulai memakai the leading software, Pro-Tools. Mengenal Music Technology (Teknologi Musik)

Medefinisikan music technology bisa menjadi topik yang menarik dan sekaligus berat di level akademis. Meskipun sedikit teknis, usaha untuk mendefinisikan term tersebut tetap harus diusahakan sehingga komunitas awam bisa lebih mengerti apa sebenarnya music technology, dan tentunya kegunaan dan nilai tambah (value added) nya. Secara sederhana, music technology bisa diterangkan sebagai dampak dari masuknya teknologi komputer ke dalam dunia musik. Dalam dunia akademis istilah music technology lebih sering terdengar, tetapi dalam dunia industri istilah komputer musik mungkin lebih akrab di telinga kita. Untuk mempermudah menelaah spectrum arti dari komputer musik, segitiga musik teknologi atau triad of music technology (Moore, 1990) sangat membantu. Ada tiga elemen yang saling berkait dan mempengaruhi ketika term music technology atau komputer musik dipakai, yaitu Art, Technology, dan Science. Sebagai studi kasus sederhana, software seperti Pro-Tools M-Powered dari M-Audio adalah software audio yang dipergunakan dalam music production, sebagai teknologi yang membantu untuk mengefisiensi proses recording, sehingga data-data musik lebih mudah dimanipulasi. Di sisi lain, Pro-Tools membantu composer, arranger, bahkan performer untuk mengeluarkan ide-ide musikalnya baik dengan sound-sound virtualnya maupun dengan fitur-fitur audio maupun midinya. Dan jauh lebih dalam lagi, Pro-Tools sendiri dilandisi oleh teknologi DSP (digital signal processing) yang adalah murni dari hasil computer science research. Jadi, pada dasarnya Pro-Tools tetap sebuah program komputer. Bisa dilihat disini bahwa ketiga elemen itu akan selalu bersama-sama dalam satu koridor music technology. Keringat dingin bisa membasahi kita yang awam dengan istilah-istilah diatas, tetapi menjadi menarik sekali ketika sebuah sekolah lokal yang lahir dari kota Solo (Sekolah Musik Indonesia, red), berani untuk memposisikan diri sebagai sekolah musik pertama di Indonsia yang berkonsentrasi di Music Technology Education. Dan yang lebih “gilanya” lagi, adalah anak-anak umur 3-4 tahun sudah mulai diperkenalkan dengan penggunaan teknologi sedini mungkin. Apakah mungkin? Apakah efisien? Jawabannya adalah bukan saja mungkin dan efisien tapi harus. Dalam mempelajari “new thing,” harus ada “new way” yang diterapkan. Apalagi di abad ke-21 seperti ini, bukan lagi “digital immigrant,” tetapi anak-anak yang lahir di abad ini sudah disebut “digital native,” artinya adalah mereka secara natural “sudah digital,” dan sudah melek teknologi. Cara berfikir yang multitasking dan multidisiplin ilmu membuat anak-anak abad ke-21 lebih cocok menggunakan pendekatan proyek dalam pembelajarannya (project-based learning). Perpaduan music technology dengan pembelajaran abad ke-21 adalah sebuah solusi cemerlang yang bisa disumbangsihkan anak negeri ini untuk dunia pendidikan musik Indonesia.

We have to start somewhere!


Apakah Indonesia sudah siap dengan Music Technology Education? Sementara standarisasi dari music educataion saja belum ada, apalagi music technology education. Tetapi, seperti sebuah pepatah mengatakan “we have to start somewhere.” Seluruh pelaku dan stakeholder dari industri musik, multimedia, dan kreatif pada umumnya harus mulai menggarap MTE lebih cermat. Pemerintah dalam hal ini departemen pendidikan tidak bisa tidak, harus mulai memasukkan MTE sebagai salah standar sekolah-sekolah umum. Pendidikan-pendidikan luar sekolah (kursus-kursus musik, red) harus mulai ditata-ulang sehingga tidak hanya profit-oriented, tetapi benar-benar memberi nilai-tambah pada anak didik. Menarik sekali dalam suarat terbuka kepada sekolah-sekolah umum dan komunitas-komunitas lembaga pendidikan di Amerika bulan Agustus 2009, (http://www.doe.mass.edu/news/news.asp?id=5039), U.S. Department of Education Secretary Arne Duncan menyatakan pentingnya pendidikan berdasarkan art . Dia menuliskan: At this time when you are making critical and far-reaching budget and program decisions for the upcoming school year, I write to bring to your attention the importance of the arts as a core academic subject and part of a complete education for all students. The Elementary and Secondary Education Act (ESEA) defines the arts as a core subject, and the arts play a significant role in children's development and learning process. Ketika sebuah negara yang berorientasi kepada pasar bebas dan kapitalisme seperti Amerika saja bisa melihat pentingnya pendidikan musik sebagai suatu pembelajaran yang integral. Apakah kita sebuah negara yang sangat kaya budaya dan seninya masih melihat pendidikan musik sebagai sesuatu yang kelas dua, tiga, atau bahkan terbelakang? Ada tiga value yang harus dijawab sebuah lembaga penyelenggara pendidikan, yaitu value of money, value of academic, dan practical value. Jadi tidak bisa hanya berpusat kepada profit, sementara secara akademis, pendidikan musik semakin melorot kualitasnya. Demikan juga, ketika sebuah lembaga pendidikan hanya berpusat pada teori-teori dan lupa dengan industri, maka lama kelamaan akan mati, karena pada akhirnya industri juga ikut menentukan masa depan. Pendekatan Music Technology Education mampu menjawab ketiga kebutuhan di atas dengan baik. Secara investasi, MTE adalah sebuah sebuah terobosan yang mampu memberi daya tarik lebih bagi investor-investor (baca: orang tua yang menyekolahkan anak-anaknya di sekolah musik), sehingga memiliki pangsa pasar yang besar.
Secara akademis, MTE adalah emerging knowledge yang mampu merangkum kebutuhan pembelajaran musik dan sangat menggairahkan untuk penelitian akademis sekalipun. Yang terkahir, sudah jelas secara praktis, yang terjadi di industri sekarang adalah serba teknologi. Bed-room recording menjadi suatu trend yang tidak bisa dipungkiri. Music Technology Education adalah sebuah jawaban. We have to start somewhere!


Source:compusician magazine

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More